Publik AS Enggan Trump Terpilih Lagi, Ekonom: Kebijakannya Picu Kegaduhan Perdagangan Internasional

Publik AS Enggan Trump Terpilih Lagi, Ekonom: Kebijakannya Picu Kegaduhan Perdagangan Internasional

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira mengatakan publik Amerika Serikat (AS) tidak terlalu berharap Donald Trump terpilih kembali sebagai Presiden AS. Hal itu karena selama ini ia dinilai lebih banyak menimbulkan kegaduhan melalui kebijakan kebijakannya yang berkaitan dengan ekonomi dan kerja sama perdagangan dengan negara lain. Kegaduhan yang dimunculkan Trump ini berdampak pada memanasnya hubungan dengan negara lain yang menjadi mitra dagang AS.

"Karena ada perang dagang Amerika dengan China, juga Amerika dengan negara negara mitra dagang lainnya," jelas Bhima. Perang dagang antara kedua ekonomi terbesar di dunia itu, kata Bhima, tentunya juga berpengaruh terhadap kegiatan ekspor Indonesia yang mengalami tekanan. "Nah ini kan sudah terbukti berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia karena ekspor kita pun tertekan ketika terjadi perang dagang," kata Bhima.

Dikutip dari laman Sputnik News, Senin (19/10/2020), menurut jajak pendapat Hill Harvard yang dilakukan oleh HarrisX pada pekan lalu, kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden unggul 9 poin dari Trump di negara bagian penting Michigan. Sementara, 54 persen pemilih Amerika di negara bagian itu mendukung mantan Wakil Presiden AS tersebut, sementara 43 persen lainnya memilih mendukung Trump. Biden telah mengumpulkan dana kampanye hingga 383 juta dolar AS, sementara Trump memiliki sekitar 247 juta dolar AS.

Saat ini hanya tersisa 16 hari tersisa jelang pemilihan dan sudah ada 20 juta surat suara telah diberikan. Ada kabar menyebutkan bahwa saat ini Demokrat memimpin dengan sedikit keunggulan di negara bagian Florida yang secara luas dipandang sebagai negara bagian yang wajib dimenangkan Trump. Perkembangan itu terjadi saat Partai Republik di Kongres tampaknya menunjukkan tanda tanda bahwa mereka takut Trump akan kalah dari Biden pada bulan depan.

Senator Ted Cruz dari Texas pun baru baru ini memperingatkan terkait 'Partai Republik yang bisa saja mandi darah dalam proporsi skandal Watergate'.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *