Lezatnya Gado-gado Mang Wahyu di Jalan Semarang Menteng, Kuliner Legendaris di Jakarta

Lezatnya Gado-gado Mang Wahyu di Jalan Semarang Menteng, Kuliner Legendaris di Jakarta

Ada satu tempat makan gado gado sederhana yang terkenal enak di kawasan eliteMenteng,Jakarta Pusat. NamanyaGado gado Mang Wahyu. Gado gado ini terkenal khas karena bumbu kacangnya.

Mang Wahyu sudah 39 tahun meracik gado gadonya. Selama ini ia mengandalkan gerobak sederhananya untuk berjualan diJalan Semarang,Menteng. Wahyu (59) terlihat sibuk mengulek bumbu kacang di sebuah cobek besar untuk gado gado pesanan sejumlah pembeli di waktu makan siang.

Sembari berdiri menunggu, seorang pembeli sempat bercerita kepada rekannya yang ikut. "Ini gado gado udah lama. Dari tahun 90 an saya di sini, gado gado ini sudah jualan," kata perempuan itu kepada rekannya. Gado gado mang Wahyu seolah menjadi pembangkit nostalgia pembeli saking lamanya ia sudah berjualan.

Sejak tahun 1981, Wahyu memang sudah berjualan di Jalan Semarang, Menteng, Jakarta Pusat. Awalnya saat masih remaja, Wahyu ikut kerja membuat gado gado bersama pamannya di Jalan Sawo pada tahun 1978. Pria yang lahir di Kuningan, Jawa Barat dan besar di tanah Betawi itu mengikuti jejak mereka.

Sebab, sebagian besar keluarga Wahyu merupakan penjual gado gado seperti Ayah, kakak dan pamannya. Tiga tahun dirasa cukup bekerja dengan pamannya, Wahyu memberanikan diri bikin usaha gado gado sendiri. "Tiga tahun jualan gado gado bareng paman di Jalan Sawo. Masa ikut paman aja, saya mau mandiri bikin gerobak juga."

Kala awal berjualan diJalan Semarangkenang Mang Wahyu, ia sering melayani pembeli dari gedung Ditjen P dan K (Pendidikan dan Kebudayaan) yang letaknya tak jauh dari gerobaknya. Para pegawai di sana menjadi langganannya. Mereka menyukai gado gado resep keluarga Wahyu. Namun, pada tahun 1997, Dirjen P dan K pindah ke kawasan Senayan. Ia sempat diminta untuk ikut pindah.

"Diajak ke Senayan. Diajak sama Ibu Dirjen (pimpinan saat itu) buat jualan di sana. Nyari tempat, enggak ada yang cocok," ucapnya. Setahun berselang, Wahyu diajak lagi untuk berjualan di sana lantaran Kepala Rumah Tangga gedung sudah membangun kantin baru. Wahyu menolak ajakannya karena alasan jauh dari rumahnya.

"Disuruh Ibu Dirjen, dia suka gado gadonya. Saya enggak mau karena terlalu jauh," tambahnya. Gado gado Mang Wahyu yang semula ramai sempat sepi karena pindahnya gedung Dirjen P dan K. Ditambah pada tahun 1998 saat dilanda krisis moneter, turut berdampak kepada penjualan gado gadonya.

Wahyu seakan berjualan dari nol lagi. Namun, karena ketekunannya berjualan terus di sana, lambat laun pembeli mulai banyak yang datang. Dari mulut ke mulut, gado gado Wahyu mulai ramai kembali meski tak seramai pada masa awal buka. Dalam sehari berjualan, ia bisa menghabiskan sekira 3,5 kg sampai 4 kg bumbu kacang.

Namun, semenjak masa pandemi sekarang, paling habis 2,5 kg bumbu kacang saja. Kini diJalan Semarang, hanya tinggal Wahyu pedagang kaki lima yang masih berjualan. Beberapa rekannya sesama pedagang sudah ada yang tutup usia dan pensiun kerja.

"Dulu ada tukang mie pangsit sama tukang bakso. Tapi sudah tutup usia. Sempat berdua jualan sama tukang cendol. Tahun 2019, ia pensiun dagang. Yang ada tinggal saya doang di sini," ungkapnya. Selama berdagang dari tahun 1982, ia selalu menggowes sepeda pergi pulang. Rumahnya di kawasan Tanah Tinggi, Senen,Jakarta Pusat. Selepas berjualan gerobaknya ditinggal diJalan Semarang. Barangkali, itu kunci kesehatan Wahyu yang sudah berusia lebih dari setengah abad masih kuat dagang.

"Saya naik sepeda dari tahun 1982. Enggak mau naik motor resikonya harus mutar jauh. Kalau sepeda bebas enggak ada hambatan," ungkapnya. Namun, bisa jadi selepas Wahyu pensiun, tidak ada lagi yang meneruskan usaha gado gado yang sudah populer karena enak dan murah di kawasanMentengitu. Sebab, keempat anaknya belum terlihat gelagat mau meneruskan usahanya itu.

"Wah kurang tahu, lihat nanti aja deh," beber dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *