A. Ide Pakar Hukum dalam Mengartikan Nikah siri Nganjuk

A. Ide Pakar Hukum dalam Mengartikan Nikah siri Nganjuk

Nikah Siri Nganjuk adalah akreditasi penggabungan di antara laki laki dan wanita sebagai suami istri oleh lembaga agama, pemerintahan atau bungkusyarakatan yang penuhi legal procedure Salah satunya model pernikahan yang tidak penuhi legal procedure merupakan nikah siri. 

siri datang dari sir atau sirrun (bahasa Arab) berarti sunyi atau rahasia. Nikah siri menurut makna tukasnya yaitu nikah yang telah dilakukan diam-diam atau rahasia, 

pada perubahannya makna nikah siri ini setelah itu disangkutkan dengan beberapa aturan yang dikukuhkan oleh pemerintahan hingga nikah siri mempunyai makna nikah yang tak dicatat pada petugas yang sudah dipilih oleh pemerintahan di dalam masalah tersebut KUA, tidak dilihat oleh banyaknya orang serta tak dikerjakan di depan PPN (Karyawan Pencatat Nikah). 

Nikah siri dipandang syah oleh warga di tempat sebab syah berdasar agama Islam akan tetapi menyalahi aturan pemerintahan. 

Konsepsi serta pemaknaan nikah siri nganjuk masih exist dari sekian waktu serta pada prinsipnya mempunyai tujuan buat “rahasiakan” pernikahan biar ada beberapa pihak khusus yang tidak mengenal berlangsungnya pernikahan itu,

 

B. Hukum Nikah Siri Subtansi Dalam Islam

 

Nikah siri dalam penglihatan Islam merupakan nikah yang dilakukan utk sekedar penuhi keputusan mutlak buat syahnya ikrar nikah yang diikuti adanya calon pengantin laki laki, wali pengantin wanita, 2 orang saksi, ijab dan qobul. 

Proses nikah siri cuman dikerjakan harus atau rukun nikahnya saja sementara itu sunnah nikah tak dilaksanakan, terutamanya perihal umumkan pernikahan atau yang disebutkan perjamuan/perayaan, 

dengan begitu beberapa orang yang mengenali pernikahan itu pun terbatas di kelompok spesifik saja Nikah Siri Nganjuk dalam kajian sosial ada dua wujud : 

pertama, pernikahan yang diadakan di antara mempelai lelaki serta wanita tanpa ada hadirnya wali dan saksi-saksi, atau didatangi wali tanpa saksi-saksi, setelah itu mereka sama sama berwasiat untuk rahasiakan pernikahan itu.  

Tipe pernikahan ini batil (tak sah), sebab tidak penuhi prasyarat-persyaratannya, adalah faktor wali dan saksi-saksi dan 

ke-2 , pernikahan yang terjadi dengan rukun-rukun dan prasyarat-syaratnya yang komplet, seperti ijab kabul, wali serta saksi-saksi, namun mereka itu (suami, istri, wali serta saksi-saksi) satu kata buat rahasiakan pernikahan dari pengetahuan orang atau beberapa orang.

 

C. Berikut Syarat Nikah Siri Yang Sama sesuai Islam

 

Istilah nikah siri atau nikah yang dirahasiakan memang diketahui di kelompok banyak ulama, sekurang-kurangnya sejak mulai waktu imam Malik bin Anas, tetapi nikah siri yang dikenali pada periode dulu tidak serupa pengertiannya dengan nikah siri semasa sekarang ini.  

Pada periode dulu yang diterangkan dengan nikah siri nganjuk adalah pernikahan yang penuhi beberapa unsur atau rukun-rukun perkawinan serta ketentuannya menurut syari’at, yakni terdapatnya mempelai lelaki serta mempelai wanita, ada ijab qabul yang sedang dilakukan oleh wali dengan mempelai laki laki dan dilihat oleh 2 orang saksi, 

namun sang saksi disuruh untuk rahasiakan atau mungkin tidak mengumumkan berlangsungnya pernikahan itu terhadap khalayak luas, terhadap orang dan sendirinya tidak ada i’lanun-nikah berbentuk walimatul-‘ursy atau berbentuk yang lainnya 

yang diributkan yaitu apa pernikahan yang dirahasiakan, tak dikenali oleh seseorang syah atau mungkin tidak, karena nikahnya tersebut udah penuhi beberapa unsur dan kriteria-syaratnya.

Nikah siri atau perkawinan di bawah tangan menurut hukum Islam ialah resmi kalau penuhi rukun dan seluruh syarat syahnya nikah kendati tidak dicatat. 

Lantaran syariat Islam dalam Al-Quran atau Sunnah tidak mengontrol secara nyata terkait ada pendataan perkawinan.

 

D. Aturan Cara Nikah Siri 

 

Menurut hukum positif, nikah siri ini tak resmi karena tidak penuhi satu diantara syarat resmi perkawinan yakni pendataan perkawinan pada Petinggi Pencatat Nikah. 

Tidak adanya pendataan, karena itu pernikahan itu tidak miliki surat asli yang berbentuk buku nikah. Dan dokumen nikah itu diraih melaui permintaan itsbat nikah yang diutarakan ke Pengadilan Agama.

Tata cara pendataan perkawinan dilakukan seperti dipastikan dalam Pasal 3 s/d Pasal 9 PP No. sembilan tahun 1975 ini, di antaranya tiap-tiap orang yang bisa langsungkan perkawinan mengumumkan secara lisan atau tercatat gagasan perkawinannya ke karyawan pencatat pada tempat perkawinan dapat diadakan, paling lambat 10 hari kerja sebelumnya perkawinan dilakukan. 

Lalu karyawan pencatat menelaah apa persyaratan perkawinan udah disanggupi dan apa tidak ada rintangan perkawinan menurut Undang-Undang. 

Arah pendataan dan bukti valid berbentuk Surat Nikah merupakan ingin buat perlindungan hak-hak asasi dari semasing faksi, baik dari suami apa lagi istri serta keluarga besar dari ke-2 pihak. 

Di akte nikah tercantum proses ijab kabul, sebagai implikasi penyerahan seluruhnya dari faksi wali, dalam perihal tersebut bapak kandungan atau yang jadi wakil. Ijab kabul itu tidak bermain, karena itu, ayyakunal aqdu mubasyaratan, sebaiknya janji itu dilaksanakan dengan cara langsung lantas ada saksi-saksi.

Terkait dengan nikah siri nganjuk, figur MUI Kyai Ma’ruf memperjelas jika hukum nikah yang awalannya syah sebab penuhi syarat serta rukun nikah, jadi haram lantaran ada sebagai korban. 

Maka  “Haramnya itu hadirnya terakhir. Pernikahannya sendiri tidak gagal, namun jadi berdosa sebab ada orang yang ditelantarkan, maka orang laki laki akan berdosa lantaran mempertaruhkan istri atau anak, resmi namun haram kalaupun hingga sampai berlangsung korban”. 

Berikut ini antiknya nikah siri nganjuk dan keunikah berikut ini yang tak dipikir oleh aktor nikah siri serta sejumlah pihak yang tersangkut dan memberikan dukungan perlakuan nikah siri.

 

E. Nikah Siri: Di antara Keinginan dan Realita 

 

Semestinya warga mulai mengetahui jika yang paling dirugikan dalam perkawinan siri dalam masalah ini yaitu anak serta istri. Sebab perkawinan tidak resmi secara hukum, jadi istri akan tidak dianggap jadi istri yang syah. 

Istri tidak punya hak atas harta gono-gini bila terjadi perpisahan lantaran secara hukum nikah siri nganjuk itu dipandang tidak sempat terjadi. 

Dengan cara sosial wanita yang kerjakan perkawinan di balik tangan kerap dikira kumpul kebo lantaran tinggal serumah dengan lelaki tanpa ada ikatan perkawinan atau dipandang sebagai istri simpanan.

Anak-anak yang lahir dari status perkawinan di bawah tangan mempunyai persoalan apabila bertatapan dengan hukum. Posisi mereka dikira tak syah lantaran secara hukum anak cuman punya interaksi perdata dengan ibu serta keluarga ibunya saja. 

Maknanya anak tak punyai jalinan hukum dengan ayahnya tak segera bisa mendapatkan hak nafkah, ongkos kehidupan atau pengajaran dan peninggalan dari ayahnya. 

Terkecuali itu pasangan yang kerjakan nikah siri atau mut’ah mempunyai arti pernikahan mereka tidak didaftarkan secara hukum maka dari itu anak yang dilahirkan susah mendapat dokumen kelahiran, yang hendak jadi bukti dasar beberapa document sah nantinya. 

Naskah itu dibutuhkan untuk mendapat beberapa bantuan kesra, asuransi atau peninggalan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *